Rumah Dosa di Galeri gambar pepek bugil gadis cantik dan jablay disetubuhi

✪ Topik: Foto Bugil Rumah Dosa tentu semok

Apakah lingkaran setan ini tidak akan pernah berakhir? Aku bersumpah iblis telah memilih keluarga saya sebagai rumahnya incest. Semuanya dimulai dengan saudari perempuanku, ibuku, dan saya.

Orangtuaku bercerai ketika aku masih anak-anak dan saya tinggal bersama kakek dan nenek dari pihak ayah saya dan ayah saya di sebuah peternakan. Aku adalah anak kesayangan ibuku. Hampir setiap malam aku menangis dan memohon agar ayah mengijinkan aku untuk tinggal bersama ibuku. Beberapa kali ayah minta kepada ibu untuk dapat rujuk, tapi ibu saya selalu menolaknya, dan akhirnya pada usiaku yang ke 18, ayah saya bunuh diri.

Karena saya adalah seorang anak yang nakal, kakek dan nenek yang sering dibuat pusing oleh tingkah laku saya, akhirnya bertanya pada ibuku apakah dia bersedia membawa saya. Mengingat bahwa saya adalah anak kesayangannya, ibu langsung setuju untuk merawat kembali saya, bahkan katanya “dari dulu juga aku sudah meminta agar Doni tinggal bersamaku, sayang ayahnya bersikeras untuk membawa dia” kata ibu pada kakek dan nenek.

Aku jarang dapat bertemu dengan ibu saya karena dia sibuk mengelola restoran miliknya. Hal ini menyebabkan saya lebih banyak tinggal dengan kedua saudari perempuan saya, yaitu Lena dia setahun lebih tua dariku, serta adik perempuan saya Marta yang baru berusia 13 tahun. Kedua saudara perempuanku itu tampak lebih dewasa dibanding usianya, serta merupakan duplikat yang sempurna dari ibuku, puting yang super, pinggang ramping dan cantik, pantat yang membulat, rambut hitam, mata coklat, bibir mungil berwarna merah delima, dan hidung mancung melengkapi penampilan mereka yang menakjubkan. Mereka begitu mirip satu sama lain, seakan-akan mereka kembar dua, oh lupa kembar tiga dengan ibuku..

Di usia 18 tahun saya, hormon kelelakian saya sedang giat-giatnya berproduksi, sebagai akibatnya saya secara tetap terangsang oleh hampir setiap bagian tubuh wanita yang saya lihat, sering sekali aku mengkhayalkan bercumbu dengan wanita. Apalagi aku yang dulunya tidak terbiasa dikelilingi wanita, kini tinggal dengan tiga orang wanita cantik sekaligus dengan ulahnya masing-masing.

Saudari perempiuanku sering berjalan didalam rumah, dengan hanya mengenakan celana dalam dan BH, sedang ibuku setiap malam sehabis mandi malam, mengenakan baju tidur yang yang memperlihatkan sebagian super tubuhnya, kalaupun tertutup rapat, baju yang dikenakannya tentu tipis transparant. Aku belum pernah melihat seorang wanita yang benar-benar dalam keadaan tanpa baju bulat, namun untuk beberapa alasan, saya memiliki keinginan kuat untuk melihat rambut kemaluan wanita lebih dari bagian tubuh mereka yang selanjutnya.

Ibuku yang menyadari bahwa aku mungkin mengalami trauma akibat peristiwa bunuh diri ayahku, mencari cara untuk menghilangkan apa yang dia percaya sebagai kesedihan terpendam atas kematian ayah. Karena itu saat seorang pelanggan restorannya menyarankan agar aku dikirim untuk ikut kegiatan camping yang dikelola oleh sebuah gereja, maka ibu langsung setuju, dan mendaftarkan aku sebagai salah seorang pesertanya. Dia pikir ini akan mengalihkan pikiranku dari bunuh diri ayahku. Aku sendiri sebenarnya enggan untuk pergi, kalau boleh memilih maka aku lebih memilih untuk tinggal dirumah, tapi aku tidak memiliki alasan yang kuat untuk menolaknya.

Akhirnya terpaksa aku ikut juga. Setelah tiga hari melakukan kegiatan camping, suatu sore aku melihat kesempatan untuk mengintip para gadis yang sedang mandi. Diluar kamar mandi perempuan, tepat dibawah jendela terdapat tangki air seribu liter, jika aku naik keatasnya maka aku akan dapat mengintip kedalam kamar mandi perempuan.

Tanpa membuang waktu lagi, segera aku naik keatas tangki tersebut, terlihat didalamnya beberapa orang gadis, yang seorang kutaksir usianya sekitar 18 tahunan, yang selanjutnya adalah remaja putri dengan usia yang bervariasi sedang mandi dibawah shower. Hampir sepuluh menit mataku melotot melihat tubuh-tubuh tanpa baju tersebut, mataku sempat meneliti seluruh tubuh mereka, terutama pada bagian rambut kemaluannya. Sungguh suatu pengalaman yang fantastis.

Sayang rupanya ulahku itu ketahuan oleh seorang pendeta, yang segera menghubungi ibuku, “di dalam kegiatan gereja tidak ada tempat bagi seorang anak lelaki semisal anak ibu” katanya kepada ibuku, karena itu ibu langsung menjemputku malam itu juga. Aku yang tidak menyangka bahwa ulahku diketahui seseorang, begitu terkejut saat ibu datang menjemput, dan saya begitu malu sampai aku tidak dapat berbicara sepanjang perjalanan pulang. Kedua saudari saya yang duduk di kursi belakang cekikikan. Untungnya, tidak ada satupun yang dikatakan oleh mereka yang dapat menyebabkan bertambah parahnya penderitaan yang kualami.

Pagi berikutnya aku bangun pagi-pagi, karena merasa kebelet untuk kencing aku segera pergi kekamar mandi untuk buang air kecil, akupun segera kencing sehabis menutup pintu, yang kulanjutkan dengan menggosok gigi. Baru saja pasta gigi kuborehkan diatas sikat gigi, pintu kamar mandi diketuk lalu terdengar suara Marta adikku “Bang, buka sebentar” katanya. Aku segera membuka pintu kamar mandi dan bertanya “ada apa?”, “Boleh aku sekaligus ikut mandi?” tanyanya.

“Boleh saja, tapi aku juga tidak lama kok paling cuma butuh satu menit,” kataku. “Ya sudah aku mandi sekarang, aku juga tidak keberatan kok abang menonton aku mandi” jawabnya sambil langsung membuka seluruh bajunya hingga kini dia berdiri tanpa baju bulat dihadapan saya.

“Tolong sabunnya” pintanya kemudian, wajahku terasa semok dan terlihat merah padam dari pantulan kaca cermin yang ada dikamar mandi, sementara itu batang penisku langsung tegang kaku menonjol dari balik celana piyama yang saya kenakan.

“Mmmm. saya lihat penis abang super dan panjang, “katanya sambil melihat kearah selangkanganku. “Pernahkah abang bercinta dengan seorang gadis sebelumnya?” tanyanya lebih lanjut.

“Err, ti… tidak” kataku sedikit tergagap sementara mataku melotot melihat buah dadanya yang sudah tumbuh lebih super dari ukuran anak seusianya, super putingnya tidak berbeda dengan super puting gadis yang kemarin aku perhatikan, “kenapa bang? apa abang tertarik melihat putingku? abang ingin menyentuh putingku? saya tidak keberatan kok” kata Marta sedikit acuh tak acuh.

Aku menelan ludah dan berkata, “a…aku begitu ingin sekali” kataku dengan suara terputus dan parau, tanpa membuang waktu lagi aku menangkup kedua puting dengan kedua tangan dan meremasinya. Terasa putingnya yang tegak menantang tersebut begitu halus dan kenyal ditanganku, sedang kedua putingnya yang berwarna kemerahan sungguh menggiurkan bagaikan sepasang anggur dari surga.

“Ini…ini sungguh begitu indah dan mengundang.., bolehkah…bolehkah kuhisap?” kataku sambil mengelus sepasang puting tersebut. “Hisaplah kalau abang mau” jawabnya, tanpa banyak bicara lagi kuturunkan mukaku dan kuhisap puting putingnya.

“Apakah ini yang abang ingin lihat ketika abang mengintip melalui jendela kamar mandi di kamp?” tanya Marta kepadaku saat aku mulai menurunkan mukaku, “akhh…” desahnya saat aku mulai menghisap puting tersebut, sementara badannya sedikit tergeliat.

Kunikmati emutanku pada puting putingnya, kurasakan badannya sedikit gemetaran saat aku mengemut putingnya, sehabis beberapa lama baru aku menjawab “ya, tapi yang aku benar-benar begitu ingin melihat adalah rambut kemaluan perempuan, saya begitu suka melihat puki yang tebal dan tembem semisal memiliki sampeyan Mar.. boleh aku menyentuhnya? tanyaku”

“Boleh, asal aku boleh menyentuh penis abang,” jawabnya. Bersama tergopoh-gopoh saking gembiranya, aku segera memegang pukinya, sejenak keremas mount pubicnya yang ditumbuhi rambut kemaluan yang halus dan masih jarang, jari-jariku perlahan menembus sela-sela rambut kemaluannya, dan kuelus belahan pukinya yang terasa basah dan hangat.

Tubuh Marta kembali tergeliat, “akhh….” desahnya saat jariku mengelus belahan pukinya, sementara itu air madi mulai mengalir dari lubang kencing saya, cairan pelicin yang berfungsi untuk memudahkan penis masuk kedalam lubang puki. Jariku mulai mengulir-ulir tonjolan daging yang berada tepat pada bagian atas bibir pukinya. Tubuh Marta kembali tergelia “Akhh…” desahnya serasa menggetarkan jiwaku.

Lalu jariku mulai mengelus daerah sekitar lubang pukinnya, sejenak kutekan-tekan daerah disekitar itu, “apakah ada yang pernah memasukkan penisnya di sini?” tanyaku pada Marta, “pernah tapi hanya sekali, saat itu saya sedang berkencan dengan Toni, dia begitu ingin sekali memasukkan batang penisnya kesana, tapi sehabis itu aku putus dengannya, sejak itu aku tidak pernah melakukannya lagi, tapi aku suka cara abang menyentuhku” jawabnya polos.

Sungguh aku nyaris tidak percaya adikku yang baru berusia 13 tahun sudah bukan perawan lagi. “Banyak teman perempuan sampeyan yang telah melakukannya?” tanyaku lagi dengan suar semakin parau. “Tentu umumnya teman-teman perempuanku sudah pernah melakukannya meskipun hanya sekali semisal aku” jawab Marta. “Kau… kau menyukainya ketika Freddie menyetubuhimu?”

“Yang dapat saya ingat adalah, rasa perih saat pertama penisnya masuk, perih dan perih, tapi itu tidak berlangsung lama, Toni segera memuncratkan air maninya, membuat pukiku basah kuyup oleh cairan kental. Tapi aku sedikit menyukainya, terutama saat batang penisnya menggesek lubang pukiku. Apa abang juga ingin memasukkan penis abang ke sana? ” jawab Marta dengan nada polos dan wajah tidak bersalah.

“Tentu…tentu saja, apakah ibu sudah pergi?” tanyaku tergagap. “Sudah… ibu sudah pergi kerestaurant, sedang kak Lena masih tidur, paling bangun juga nanti siang, abang lebih kenal kebiasaannya” jawab Marta padaku, lalu sehabis terdiam sejenak dia melanjutkan “mengapa kita tidak pergi ke kamar abang?” katanya.

Tanpa bicara lagi segera kubopong tubuhnya, dan kubaringkan ditempat tidurku, lalu dibawah selimut kami mulai saling menjelajahi tubuh masing-masing, kuremas-remas buah dadanya dengan gemas, sementara mulut kami tidak berhenti saling berpagutan, sementara lidah kami saling belit dan saling menggelitik dengan nikmatnya.

Saat kuturunkan ciumanku kearah lehernya, Marta segera tergeliat, saat bawah telinganya kuelus dengan ujung lidahku, “akhhh…” desahnya melihat aksi yang kulakukan. Lalu ciumanku terarah semakin kebawah, menyelusuri bahu dan dadanya, sampai dipangkal payu daranya yang sebelah kanan, sejenak aku menatapnya, lalu tanpa buang waktu lagi segera kukulum puting susunya, sementara sebelah tanganku meremasi buah dadanya yang lain. “Akhhh… okhhh…” erang Marta tak henti-hentinya.

“Sekarang… bang.. sekarang masukkan, aku sudah begitu ingin merasakan batang penis abang yang super ini dalam pukiku” katanya sambil mengelus dan sedikit meremas batang penisku. Badanku tergeliat ketika merasakan elusannya. Aku segera menelungkupi tubuhnya, kucoba mendorong batang penisku kedalam pukinya.

“Aww… “ pekik Marta tertahan, “bukan disana, rendahkan sedikit tubuh abang” katanya sambil memegang batang penisku dan menuntunnya kedalam lubang pukinya. “Sekarang dorong bang” pintanya padaku, dengan sekuat tenaga aku mendorong batang penisku, bles… terasa batang penisku mulai masuk seiring dengan pekik tertahan Marta “Akhhh…”.

Terasa dinding pukinya dengan ketat menggesek batang penisku, sekali lagi kutekan pantatku kuat-kuat dan slebb… batang penisku masuk seluruhnya, kali ini Marta bukan hanya memiawik lirih “Akkhhh…” tapi badannya juga tergeliat kuat. Selanjutnya naluriku yang mulai bekerja, tanpa diperintah siapapun aku segera mengeluar-masukkan batang penisku dalam lubang pukinya.

Sementara itu tanganku juga tidak berhenti meremasi kedua buah dadanya, dan mulutku mengulum bibirnya dengan lidah yang saling membelit. Ketika aku mengalihkan kulumanku pada puting susunya, terdengar Marta berdesah “akhh… sedap bang gesekkan penis abang dalam lubang pukiku terasa jauh lebih sedap dibandingkan dulu dengan Toni” katanya.

Aku semakin memacu pompaanku pada pukinya, karena ini baru kali pertama aku menyetubuhi perempuan, aku tidak dap[at bertahan terlalu lama, segera kurasakan kegelian yang nikmat pada batang penisku. Seharusnya aku menahan diri, tapi aku justru semakin mempercepat pompaanku pada Marta.

Tak lama kemudian pompaanku semakin tidak terkendali. “Akhh… ak.. aku …okh” ceracauku dan crutt …crutt.. kurasakan air mani muncarat dari dalam batang penisku. Seiring dengan itu Marta justru memutar-mutar pantatnya dengan cepat, kepalanya tertengadah dengan bibir digigitnya keras-keras “Okhhh…” lalu denga diiringi keluhan panjang Marta memeluk tubuhku erat-erat. Kami mencap[ai puncak kenikmatan secara hampir kita.

Sejenak kami terdiam kaku dalam posisi tersebut, lalu akhirnya aku menggulingkan tubuhku disisinya, sehabis batang penisku yang mengerut lepas dari lubang pukinya. “Waw.. nikmat sekali, baru kali ini aku merasakan kenikmatan semisal itu, ini barangkali yang dinamakan orgasme yang bang?” bisik Marta ditelingaku. Aku hanya terdiam tanpa mampu menjawab. “Dengan Toni aku tidak merasakan semisal ini, ini bahkan lebih nikmat dibanding kalau aku masturbasi” celotehnya kepadaku.

“Pantas banyak pria dan wanita yang menikah, rupanya bersetubuh merupakan hal yang ternikmat di dunia ini” lanjutnya sambil meremas-remas kembali batang penisku, “ini ternyata yang jadi penyebabnya” katanya lagi sambil tetap meremas-remas penisku. Tak lama kemudian penisku mulai tegak kembali dengan gagah beraninya.

“Waw.. bang dia kembali berdiri” cetus Marta sambil cekikikan, aku tidak menjawab, tapi aku langsung menggumulinya kembali, sehingga cekikikan Marta berubah menjadi lenguhan nikmat “akhh… abang nakal mempermainkan klitorisku terus” desahnya padaku.
Kurasakan dari lubang pukinya kembali mengalirkan air nikmat yang membuatnya kembali basah, sehabis aku mempermainkan kelentitnya beberapa lama.

Segera kunaiki tubuhnya kembali, kali ini tanpa dituntun lagi aku langsung memasukkan batang penisku pada liang pukinya, “awww…”pekiknya saat batang penisku masuk kembali kedalam pukinya. “Perlahan sedikit bang jangan terburu nafsu” pintanya sambil menggigit telingaku pelan.

“Hemmm…” hanya itu jawabku padanya, lalu tanpa banyak bicara lagi aku segera mengayunkan pantatku, memompa pukinya. Kali ini aku dapat bertahan dalam waktu yang lama, mungkin karena sebelumnya aku sudah memuncratkan air maniku, maka aku tidak segera muncrat kembali.

Rintih dan erang Marta berpadu dengan lenguhku, “akh… okh….bang…akh…”, “ehm..ugh..” aku semakin mempercepat pompaanku, kami tidak mempedulikan tubuh kami yang sudah bermandikan keringat, bahkan diwajah Marta kulihat keringat sebesar biji jagung mengembun di kening dan ujung hidungnya.

Semakin cepat dan semakin cepat aku mendayung, semakin cepat juga kurasakan pantat Marta bergoyang mengimbangi desakanku, sampai akhirnya “bangggg…” serunya dan matanya terbalik keatas dengan kepala tertengadah, kurasakan tangannya mencengkram pantatku sampai kuku jarinya melukaiku”

“Okhhh…”erang Marta dengan tubuh mengejang kaku. Aku yang tidak dapat bergerak karena himpitan tangannya yang merangkul erat pantatku, terpaksa harus berdiam diri, hanya mulutku yang mengulum puting susunya, kuemut, kuelus dengan ujung lidah diselingi dengan gigitan pelan.

Saat kurasakan tubuhnya melemas, dan dekapan tangannya di pantatku mengendor, aku segera memacu kembali pantatku untuk bergerak naik turun diatas tubuhnya. Marta untuk beberapa lama masih berdiam diri dengan lemasnya, tapi kemudian pantatnya mulai bergoyang kembali melayani desakkanku.

Kembali terulang paduan rintih nikmat dan erang Marta dengan lenguhanku , “akh… okh….bang…akh…”, “ehm..ugh..”. Kupercepat dan semakin kupercepat pompaanku, keringat bercucuran dari tubuhku dan tubuh Marta, kami betul-betul mandi keringat.
Sampai akhirnya, kembali kurasakan rasa geli yang nikmat menjalar di batang penisku.

“Mar… aku… aku…”kata ku terputus-putus karena desakan nafsu, tapi meskipun aku tidak mengatakan dengan jelas apa yang kumaksud, tampaknya Marta dapat menangkap maksudku itu terlihat dari jawabannya “akhu… juga bang… mau…okh…” katanya sambil mengguncangkan pantatnya keras-keras. Tak lama kemudian aku tidak lagi mampu menahan desakan di batang penisku.

Marta kembali mendekap pantatku erat-erat, didorongnya pantatnya keatas sambil mengguncangkan pantatnya ke kiri dan kekanan dengan keras, “bangggg… akkkkkhhhhh…” erangnya seiring dengan itu aku merasakan pijatan yang ketat dan nikmat sekali di batang penisku. Diiringi lenguhku yang semakin keras “Ugh…ehmmm…” aku memuncratkan air maniku yang kedua kali.

Setelah berdiam beberapa lama kami akhirnya pulih kembali dan sepanjang pagi itu aku dan Marta bersetubuh berulang kali, sampai sprei yang menutupi tempat tidurku basah oleh paduan ceceran air nikmat kami serta keringat yang mengucur dari tubuh kami. Marta kemudian mengganti sprei ku dengan yang baru dan membawa yang lama ke mesin cuci.

Sejak saat itu aku selalu bersetubuh dengan Marta setiap hari. Sedikitnya aku menyetubuhinya sekali di pagi hari, tapi seringnya aku menyetubuhinya beberapa kali dalam sehari, bahkan kadang malam hari pun kami bersetubuh juga jika keadaan memungkinkan.

Ibuku yang melihat Marta sudah menjadi gadis remaja menjelang dewasa mengijinkan Marta memakai alat kontrasepsi, karena ibu tahu bahwa banyak remaja yang sudah melakukan hubungan sexual pada masa kini. Bersama demikian aku tidak pernah memakai kondom saat aku bersetubuh dengan Marta.

Ibu tidak pernah tahu bahwa yang selama ini selalu menyetubuhi Marta bukanlah teman atau pun pacarnya, tapi aku kakak lelakinya. Sering sekali Marta mengatakan “Aku ingin berkuda tanpa pelana,” katanya padaku sebagai isyarat bahwa dia minta disetubuhi.

“Kau terlalu banyak membaca novel sexual” kataku padanya suatu hari, karena Marta sering sekali meminta posisi yang aneh aneh saat bersetubuh. Tapi aku sungguh begitu mencintai Marta terutama keahliannya dalam melayaniku bersetubuh.

Apartemen yang kami tinggali berada di tingkat dua sebuah gedung apartemen yang tingkat pertamanya digunakan untuk lahan bisnis. Tepat dibawah kami adalah toko yang menjual barang-barang dari kulit, semisal tas, jaket, sepatu dan barang-barang selanjutnya. Dimalam hari cahaya lampu jalan yang temaram sampai juga kedalam kamar-kamar kami. Pada saat-saat tertentu dimalam hari sering saya mencium bau kulit dari took dibawah dan saya pastinya menyukai baunya, sedangkan suara kereta api juga terkadang terdengar sayup-sayup melintasi rel kereta yang berjarak kurang lebih 500 meteran.

Tata letak apartemen yang kami tinggali melebar, dengan kamarku dan kamar saudari perempuanku berada di sayap utara, bagian tengah terdiri dari ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan dan dapur, sedang sayap selatan terdiri dari kamar ibuku. Di kedua ujung sayap juga terdapat kamar mandi.

Sedangkan pintu masuk kedalam apartemen juga ada dua, yaitu yang satu dari ruang lobby, ini merupakan pintu utama dan terhubung pada jalan raya di depan apartemen kami, disana terdapat lift dan tangga yang menghubungkan setiap tingkat dari gedung apartemen, menggunakan jalan ini kita akan sampai pada pintu ruang tamu apartemen kami.

Pintu kedua adalah menggunakan tangga darurat yang berada disamping apartemen kami serta terhubung pada gang disamping gedung apartemen. Jika kita menggunakan jalan ini kita akan sampai pada pintu darurat yang terletak didalam dapur. Dapur itu sendiri berada dekat dengan sayap selatan, sehingga begitu kita keluar dari dapur kita akan keluar pada lorong depan kamar ibuku.

Tata ruang yang semisal ini juga memberi kebebasan pada ibuku saat dia berkencan dengan beberapa orang relasinya. Aku tahu persis bahwa ibuku terkadang memberi pelayanan sexual kepada relasi-relasinya tersebut, baik dengan tujuan memperlancar usahanya, maupun sekedar kencan biasa untuk senang-senangnya. Pada umumnya relasi tersebut telah memiliki keluarga sendiri.

Saya ingat salah seorang teman kencan ibu adalah seorang salesman mobil bekas dengan istri dan dua anak yang berusia remaja. Aku tidak tahu apa yang membuat ibu tertarik padanya, mengingat meskipun ibuku menikah diusia muda dan telah memiliki tiga orang anak dari hasil pernikahannya dengan ayahku, tapi ibuku adalah seorang wanita cantik yang awet muda, dengan bentuk tubuh yang masih tetap menggiurkan bagi lelaki, bahkan aku yakin jika ibu mau ibu masih mungkin mendapatkan jodoh seorang perjaka. Itu terlihat jelas dari cara kaum lelaki memandangnya, apabila ibu keluar rumah.

Aku ingat saat pertama kali aku melihat ibuku tanpa baju, kejadian itu sehabis kurang lebih satu bulan sejak aku dan Marta berkaitan sexual. Suatu hari semisal biasa aku kuliah dan pulang lebih awal dari biasanya, rupanya keluargaku termasuk ibuku menyangka bahwa aku yang biasanya sampai kerumah jam 10 malam, masih belum lagi akan pulang, karena hari baru menunjukkan pukul 7 malam. Hal itu terbukti kemudian dari tidak tertutupnya pintu kamar ibuku, meskipun aku heran kenapa ibu tidak memperhitungkan kedua saudariku. Saat itu karena malas memutar kedepan yang jaraknya lebih jauh aku masuk melalui pintu darurat yang biasanya merupakan tugasku untuk menguncinya.

Setelah aku masuk dan keluar dari dapur, kulihat pintu kamar ibuku terbuka, dan terdengar bunyi yang tak asing lagi suara decit batang penis yang keluar masuk di lubang puki serta suara kepala ranjang yang mengenai dinding berulang-ulang. Penasaran aku langsung mengintip kedalam, meskipun saat itu lampu di kamar dipadamkan, tapi cahaya lampu jalanan mampu menerangi kamar ibuku melalui jendela kamar, walaupun temaram.

Disana kulihat ibuku tengah bersenggama dengan si Salesman mobil bekas, saat itu mereka tengah pindah posisi dari posisi misionaris menjadi posisi doggy style. Dan aku baru tahu apa yang menarik dari diri si Salesman tadi, rupanya penisnya super dan panjang melebihi ukuran normal. Aku melihat batang penisnya keluar masuk puki ibuku dari arah belakang, mereka bersetubuh dengan serunya, sementara ibuku berulang-ulang merintih nikmat, berpadu dengan geraman si Salesman yang juga merasakan kenikmatan gesekan penisnya dengan dinding puki ibuku.

“Okhhh…hery… akhh…” rintih ibuku, sambil memanggil si Salesman, kulihat ibuku menggoyangkan pantatnya secara bervariasi, kadang didorong kebelakang menyongsong batang penis Hery yang tengah di dorong kedepan, kadang bergoyang kekiri dan ke kanan secara mendadak. Membuat Hery menggeram tak henti-hentinya “Hemmm….ughh…”.

“Kocok lebih keras Her… akhhh…” pinta ibuku pada Hery, yang segera menjawabnya dengan memompa ibuku lebih cepat lagi, “Okhh… Lin…. Linda… lubang pukimu begitu seret dan nikmaatt uugh…” ceracau Hery pada ibuku. Mereka tetap memacu birahi mereka tanpa mempedulikan keringat yang membanjiri tubuh Hery dan menetes pada pantat ibuku.

Lalu dengan sebuah geraman yang keras, “hemmm…ehm…..…” tiba-tiba tubuh Hery menggigil, ditancapkannya batang kemaluannya dalam-dalam di lubang puki ibuku, tubuhnya sejenak mengejang, sedangkan ibuku kalang kabut menggoyang-goyangkan pantatnya dengan keras “Akhh… sialan kau Her… aku hampir sampai kau duluan keluar, uh… dulu kau mampu membuat aku orgasme dua kali, sekarang kau cuma mampu sekali” keluh ibuku setengah memiawik karena kecewa. Sementara batang kemaluan Hery mulai mengerut dengan cepat dan akhirnya keluar sendiri dari lubang puki ibuku.

Rupanya meskipun ibuku telah menggoyang pantatnya kalang kabut, tapi puncak kenikmatan bersetubuh yang kedua tidak dapat diraihnya. “Maafkan aku Lin… habis makin sini goyanganmu makin yahud saja aku benar-benar tidak tahan menerimanya” jawab Hery meminta maaf sambil merayu ibuku.

Aku sadar ibuku tentu segera keluar dari kamar, maka aku segera menyelinap dibelakang pintu dapur yang sedikit terbuka bekas aku masuk tadi. Dari celah pintu yang terbuka segera kulihat ibuku keluar dari kamar dengan tanpa baju bulat, sementara wajahnya masih menunjukkan raut kecewa, sedang tangan kanannya ditangkupkan pada selangkangannya lewat celah pantatnya untuk mencegah air mani Hery berceceran kelantai.

Kulihat puting ibuku yang super berayun dari kiri kekanan, sementara mount pubicnya tampak melentung kedepan, dengan rambut kemaluan yang lebat menutupinya, kupandangi tubuh merangsang ibuku sambil menelan ludah, paha bulat panjang, pinggang yang ramping, pantat super membulat, dan buah dada yang super, ditambah dengan wajah yang cantik. Lelaki mana yang tidak akan tergiur untuk memilikinya.

Saat itu juga aku sadar, bahwa aku begitu ingin menyetubuhinya, terbayang dalam benakku, kalau ibu dapat menyukai Hery si Salesman hanya karena batang penisnya yang lebih super dan panjang dari ukuran normal lelaki, maka ibuku tentu akan menyukai aku juga yang memiliki batang penis tidak kalah super dan panjangnya dari Hery.

Ibuku rupanya langsung mandi, karena kudengar suara orang mandi dari balik pintu kamar mandi tersebut, sementara Hery yang telah mengenakan pakaiannya, kemudian keluar dari kamar ibuku. Diketuknya pintu kamar mandi, dan terdengar suaranya “Linda… aku pulang ya” katanya. “He eh…” jawab ibuku pendek, rupanya ibuku masih kecewa.

Hery segera keluar dari apartemen kami lewat ruang tamu, aku sendir segera pergi keluar dengan menggunakan tangga darurat. Dibawah kulihat beberapa temanku yang tinggal di apartemen yang sama, bergerombol di rujukan. Rupanya mereka merencanakan main bilyard. Aku ikut dengan mereka main bilyard, tapi hanya satu game sehabis itu aku pulang ke apartemen kami.

Kali ini aku pulang lewat jalan depan, sengaja kubuat beberapa suara yang pastinya berisik, agar ibuku tahu aku telah pulang, sambil bernyanyi dengan suara sumbang aku mengunci pintu keluar dari ruang tamu. Lalu aku beranjak masuk ke ruang keluarga. Disana kulihat ibuku tengah duduk menonton TV disofa dengan mengenakan daster yang tipis transparent mempertontonkan keindahan tubuhnya.

“Malam Ma.., ada acara yang menarik untuk dilihat” tanyaku pada ibuku, “tidak ada acara yang benar-benar menarik untuk dilihat” jawabnya sambil meraih sebungkus rokok Dunhill Light. Diambilnya rokok sebatang dan dinyalakannya, sambil menghembuskan hisapannya yang pertama, ibuku menepuk-nepuk sofa disampingnya, menyuruhku duduk disana.

“Rokok?” tawarnya padaku sambil menyodorkan bungkus rokok Dunhill Light nya, “tentu” jawabku sambil duduk disampingnya dan mengambil sebatang rokok. Saat menyulut rokok, diam-diam aku merasa aneh, karena aku ingat saat pertama aku dating kemari sehabis ayahku bunuh diri, aku pernah ketahuan olehnya sedang merokok di tangga, dan ibuku saat itu memarahiku sambil berceramah tidak baik seorang pemuda merokok, meskipun dia sendiri perokok.

“Don, Mama sudah berpikir tentang sampeyan” katanya memulai percakapan, sambil matanya tetap terarah pada TV, meskipun aku tidak yakin dia dapat melihat tontonannya. “Memangnya kenapa Mam?” tanyaku sambil melirik ibuku dan menghembuskan asap rokok.

“itu, tentang insiden di acara kamp gereja” katanya perlahan sambil berpaling padaku. “Mam, aku begitu menyesal atas kejadian itu, aku tahu aku telah membuat malu mama dan keluarga kita, aku tidak tahu harus berkata apa, yang jelas aku hanya ingin tahu bagaimana tubuh gadis-gadis jika tidak memakai baju, itu saja tidak ada maksud lain” jawabku mencoba menjelaskan posisiku.

“Kau memang lelaki normal, karena itu wajar jika kau memiliki rasa penasaran tentang bagaimana sich tubuh wanita jika tidak mengenakan baju, mama tidak terlalu menyalahkanmu…” mama terhenti sejenak lalu lanjutnya sambil memandang TV kembali.

“Don… kau tahu bahwa dari dulu sampeyan adalah anak kesayangan mama, tapi karena sudah terlalu lama sampeyan tidak tinggal dengan mama, maka terkadang sekarang ini sulit bagi mama untuk menganggapmu sebagai anak mama, bukankah ini suatu hal yang logis?, dapatkah kau memahami apa yang mama maksudkan?”

“Sedikit kurasa” jawabku yang sebenarnya masih kebingungan. “Karena itu, mama sekarang akan bersikap berbeda kepadamu dari sikap mama yang sebelumnya, karena mama akan berbuat lebih jujur, sesuai dengan apa yang mama rasakan, bahwa sampeyan rasanya bukan anak mama, meskipun mama tetap begitu mencintaimu” kata mama kepadaku, “kau dapat menerima itu bukan?” lanjutnya padaku.Sekali lagi meskipun aku masih kebingungan aku menganggukkan kepalaku.

Mama mengulurkan tangannya untuk mematikan rokonya, lalu mama bergeser merapat padaku, sambil tangannya meraih tanganku serta meletakkannya dibuah dadanya. Buah dada mama jauh lebih super dari buah dada Marta yang masih tumbuh, dan aku ingat aureoles nya juga lebih super dan berwarna coklat.

Ibuku berdiri dan menarikku sampai aku berlutut didepannya, dibukanya baju daster tipis yang menerawang itu, sehingga dia berdiri tanpa baju di depan saya. Segera kenanganku kembali pada saat dia keluar dari kamarnya dengan tangan menangkup pukinya lewat celah pantat, serta putingnya yang bergoyang saat dia bergegas berjalan ke kamar mandi. Batang penisku segera mengacung tegak kaku seakan ingin menjebol celana yang tengah kupakai. “Peluk mama, nak!, raba, elus dan remas seluruh tubuh mama sesuka hatimu” pintanya padaku. Bibir dan tenggorokkan ku terasa kering, dengan menelan ludah aku menuruti permintaannya.

Aku memeluknya dengan erat, sementara tanganku mengelus pinggangnya yang ramping, pantat dan pinggulnya yang membulat, lalu perlahan kucium lehernya yang wangi, serta kujilati daun telinganya sampai dengan lubang telinganya. Ciuman dan jilatanku kembali beralih pada lehernya, “akhh…” desah ibuku ditelingaku.

Sejenak muka kami merenggang, kami saling bertatapan sejenak, lalu entah siapa yang memulai, tapi bibir kami akhirnya saling melekat dalam suatu ciuman yang nikmat. Kukulum bibirnya dengan gemas, sementara tanganku meremas payu daranya yang super, “okh… betapa kenyal dan halusnya payu dara ibuku” batinku.

“Oh, ya…begitu caranya, itu terasa begitu nikmat. Ehm marilah kita ke kamar mama Don!, dan buka seluruh pakaianmu” kata ibuku kepadaku sehabis kuluman bibir kami terlepas. “Bagaimana dengan saudari-saudariku” tanyaku dengan suara gemetar karena dorongan nafsu.

“Tenang, tadi siang mereka datang ke restaurant untuk pamit kepada mama, bahwa mereka malam ini akan menginap dirumah teman-temannya. Ini adalah kesempatan bagi kita untuk saling mengenal lebih intim, dengan cara selanjutnya dari biasanya” jawab ibuku. Baru kini aku mengerti, kenapa ibuku sedemikian lalainya tidak menutup pintu kamarnya saat tadi bersetubuh dengan Hery, rupanya ibuku sudah tahu saudari-saudariku tidak ada, dan aku tentu belum pulang.

Aku nyaris tidak percaya dengan apa yang kualami, aku ingat betapa aku begitu ingin menidurinya hanya dua jam lalu, saat aku memergokinya dia bersetubuh dengan Hery. Sekarang dia mengundangku ke kamarnya di mana dia baru saja menghibur orang lain, semisalnya semua keinganku yang tadi segera akan terlaksana.

Dengan segera aku membopong tubuh ibuku yang tanpa baju bulat, sambil berjalan kekamarnya, mulutku kembali mengulum puting susunya yang telah menegak, seakan menantang untuk diemut.

Sesampainya di kamarnya kulihat tempat tidur ibuku masih berantakan, meskipun ibuku telah merapikan seprainya, aroma persetubuhannya tadi masih tercium diudara, dan itu membuat gairahku bertambah dua kali lipat, dan batang penisku didalam celana berdenyut-denyut. Dalam hatiku aku bertanya-tanya, apakah ibuku menyadari hal itu.

Kuturunkan ibuku, sampai dia terbaring diatas ranjang dalam keadaan tanpa baju bulat, semisal yang tengah menggodaku, kedua kakinya segera dikangkangkan memperlihatkan secara jelas pukinya di bawah cahaya lampu kamar. Kulihat rambut kemaluan ibuku yang lebat, dan bibir pukinya yang setengah terbuka, dan secuil daging tampak mengintip tepat pada bagian atas bibir pukinya.

Segera kulepaskan seluruh bajuku, dan aku segera berbaring disampingnya, “Wow… rupanya anak mama memiliki batang penis yang luar biasa, ughhh… begitu indah, begitu super dan panjang, dengan otot yang kuat” pekik ibuku saat melihat batang penisku, sambil mengangkat sedikit kepalanya memandang penisku.

Ibuku segera memiringkan tubuhnya, dan dia mendekapku erat-erat dengan tubuh tanpa bajunya. Kain spreinya terasa masih basah dan lengket saat dia memelukku dengan kuat.
Hal itu semakin merangsang aku, karena mengingatkan akan batang penis Hery yang menerobos lubang puki ibuku dari belakang, dan aku nyaris tidak sabar untuk memasukkan batang penisku ke lubang yang sama.

“Cium aku, Nak” pinta ibuku sambil perlahan mengelus batang penisku, sedikit tergelinjang karena elusannya, aku segera mencium bibirnya yang mungil, kukulum bibirnya dengan penuh nafsu, kurasakan lidah ibuku menujah gigiku dan perlahan mengelusnya dengan ujung lidahnya.

Segera kukejutkan ibuku dengan lidahku yang kujulurkan langsung kedalam mulutnya, “mmmhhh…” lenguh ibuku, sambil membalas perbuatanku dengan menghisap lidahku, kami berciuman dengan penuh gairah, lidah kami saling elus dan saling belit membuat gairah kami melambung ke atas awan.

“Hmmm..”, “memm…” dengusan kami saling bersahutan semetara nafas kami menjadi tersengal, bukan saja karena pernafasan kami sedikit terhalang oleh ciuman kami yang begitu lama, tapi juga karena nafsu yang semakin memuncak.

“Kamu tampaknya sudah begitu berpengalaman, apakah sampeyan pernah meniduri perempuan sebelum ini?” tanya ibuku padaku sehabis pagutan bibir kami terlepas. Aku sempat panik sejenak, aku khawatir mama mengetahui aktifitasku selama sebulan ini meniduri Marta adikku, tapi segera kuingat satu-satunya bukti adalah kain sprei ku yang selalu dicuci Marta setiap habis bersetubuh, karena mencucikan baju dan selanjutnya memang tugasnya. Jadi tidak mungkin dapat ditemukan bukti. Dan hal ini menenangkanku.

“Tidak, aku hanya pernah mencium beberapa orang gadis itu saja, selebihnya aku melihatnya di vidio cabul yang kutonton beramai-ramai dengan temanku” jawabku berbohong. Ibuku menatapku dengan lekat, seakan ingin meneliti apa aku bohong atau tidak. Aku balas menatapnya sambil menenangkan diri.

“Jadi sampeyan masih perjaka?” tanya ibuku sambil tersenyum. “Kecuali mama menganggap melacap berarti kehilangan keperjakaan, maka aku memang masih perjaka “ kembali aku berbohong. “Doni… Doni… sampeyan memang anak baik, mama pikir kini saatnya sampeyan merasakan pengalaman pertamamu, kemari anakku sayang, biar mama tunjukkan sesuatu” lanjut mama sambil tersenyum senang.

Aku tergelinjang kegelian, geli yang nikmat, saat ibuku menjilati telingaku “aghh…” erangku tak tertahankan. Lalu ibuku menciumi leherku dan menggigitnya dengan gigitan mesra, kembali aku tergelinjang, “nah kau dapat berbangga kepada kawan-kawanmu bahwa seorang perempuan telah memberimu gigitan cinta, tapi awas jangan mengatakan mama yang melakukannya” bisik ibuku ditelingaku.

Lidah ibuku menyusur kebawah, diciuminya dadaku sambil terus dijilatnya, saat sampai pada puting susuku tiba-tiba diemutnya, sambil ujung lidahnya menggelitik ujung puting susuku, “akhh…. ma…” tak tetahankan aku kembali mengerang kenikmatan. Ibuku beralih melakukan hal yang sama pada puting yang satunya lagi, kembali aku tergeliat sambil berdesah “akhh…”.

Sementara ibuku melakukan aksinya, tanganku tidak tinggal diam, tapi meremas-remas kedua buah dadanya dengan nikmatnya, ketika jilatan ibuku sampai diperut, aku segera sadar, dia ingin membuatku mengalami orgasme dengan mulutnya, karena itu aku segera menahan kepalanya, sambil berkata “mam, posisi tubuh mamanya jangan begitu, aku pernah melihatnya di vidio, ini seharusnya ada dimulutku” kataku sambil mengusap selangkangannya.

“Kau benar, itu posisi sixtynine” jawab ibuku, “tapi itu kita lakukan nanti, sekarang mama ingin membuatmu merasakan kepuasan terlebih dahulu” jawab mama sambil melanjutkan aksinya. Lidahnya kembali menjilati perut bawahku, sampai pangkal paha, lalu dia menjilati kantung pelirku, dan menghisapnya.

Terasa agak ngilu tapi nikmat saat ibuku mempermainkan buah pelirku, lalu lidahnya menjilat makin keatas, kini batang penisku yang dijilatnya, sampai aku mengeluarkan air madi yang pastinya banyak, dan hup mulut ibuku, tiba-tiba mengulum kepala penisku, sambil menghisap air madi yang meleleh keluar, “akhhh…” kembali desahku tak dapak kutahan.

Kini mama selain menghisap batang penisku, lidahnya juga bermain-main dilubang kencingku, mataku terbeliak merasakan kenikmatan itu, “akhh… mama….okh.. nikmat seka…sekali…” ceracauku, sambil meremas-remas rambut ibuku. Ibuku mulai menaik turunkan mulutnya untuk mengocok batang penisku, saat mulutnya turun, selalu dibarengi dengan hisapannya pada batang kemaluanku, serta jilatan lidahnya pada kepala penisku.

Aku benar-benar tidak tahan lagi, hasrat yang telah nampak sejak aku melihat ibuku bersetubuh, dan telah kutahan sedemikian lama, membuatku dengan cepat merasakan rasa geli yang nikmat pada penisku, segera kujambak rambut dikepalanya dan kupegang kepalanya agar mengulum batang penisku lebih dalam, dan “Akhhh….okhhhh mam… akhuu…okhhh” dengan erangan yang keras aku memuncratkan air maniku didalam mulut ibuku.

Ibuku tetap mengulum dbatang penisku, kini gerakannya searah, dari pangkal kekepala penis, sambil terus menghisap dan menelan seluruh air maniku, tanpa tersisa. Badanku kejang beberapa saat, lalu ketika semprotan air maniku berakhir, tak terasa tubuh melemas.

“Gimana nikmat?” tanya ibuku sambil melap mulutnya dengan tisue, “wow… hebat sekali mam, jauh lebih nikmat dari pada melacap” jawabku kepada ibuku. “Nah ingat-ingatlah mulai kini mama melarang sampeyan melacap, kalau sampeyan ingin mama akan membantu memuaskan sampeyan Doni” lanjut ibuku sambil mencium bibirku.

“Mam, bolehkah aku menciumi seluruh tubuhmu?” tanyaku sehabis bibir kami terpisah. “Tentu… tentu… Doni boleh melakukannya, bahkan mama akan mengajari Doni bagaimana caranya memuaskan wanita” jawab ibuku sambil tersenyum, dan berbaring terlentang disebelahku.

Aku mulai dari menciumi dahinya, lalu menjalar mengarah kebawah, mata, hidung, pipi, dan akhirnya kukulum bibir ibuku, pastinya lama aku mengulumnya sambil lidah kami saling hisap dan saling belit. Lalu kutiru gerakkannya dengan menjilati lubang telinganya, “aughh… sampeyan pintar sayang” desah ibuku sambil tergeliat kegelian saat lidahku menggelitik lubang telinganya.

Kugigit pelan daun telinganya, lalu kujilati belakang telinganya, jilatanku kemudian menjalar pada leher dan kuduknya kubalas gigitan ibuku dengan memberinya cupangan yang super dilehernya. “Ssst… jangan Don, nanti banyak yang akan memperhatikan mama” cegah ibuku sambil tubuhnya tergelinjang karena cupanganku. Tapi aku tidak mempedulikannya, aku terus mencupangnya sampai akhirnya ibuku menyerah dan membiarkan aku mencupangnya.

Lidahku kemudian menjalar pada bahunya, lalu dengan suatu gerakan tentu kubuka ketiak ibuku, dan kujilati ketiaknya yang tidak berbulu karena rajin ke salon. “Ssttt… hess….” desis ibuku kegelian karena ulahku. Kini lidahku menjalar di dadanya, dengan sebuah tangan kuremas buah dada kirinya, sedangkan mulutku kini mengulum buah dadanya yang kanan, perlahan tapi tentu, akhirnya kuemut puting susunya yang telah tegak menantang. Aku mengemut sambil mengelus-elus kepala puting itu dengan ujung lidahku. Puas dengan yang kanan, emutanku berganti pada puting yang kiri, sementara tanganku meremas dan mempermainkan buah dadanya yang kanan.

Lalu lidahku menjilati perutnya, semakin kebawah dan tampaklah sekarang pukinya terpampang tepat didepan mataku, aku tertegun sejenak memandang puki ibuku, puki itu lebih super dibanding memiliki Marta, dengan rambut kemaluan yang lebih lebat juga. Kugerakkan tanganku untuk membuat kaki ibuku lebih terkangkang.

Terlihat klitorisnya juga lebih super dan lebih menonjol dibandingkan Marta, sementara bibir pukinya tampak sedikit menggelambir. Kusiakan bibir pukinya dengan jariku sehingga bagian dalam pukinya yang berwarna merah kecoklatan nampak, terlihat cairan pelicin mulai nampak dari lobang pukinya.

“Apa yang sedang kau lihat sayang, ini namanya klitoris dan merupakan pusat kenikmatan wanita, semua wanita akan segera mengalami orgasme, jika itu dimainkan dengan benar” kata ibuku sambil jari telunjuk kanannya menunjuk seupil daging yang berada tepat diatas bibir pukinya.

Tanpa membuang waktu lagi kujulurkan lidahku dan kujilat sepanjang pukinya. “akkhhhh.. okhhh…” erang ibuku kenikmatan, selama beberapa saat kulakukan hal itu lalu dengan tiba-tiba kukulum klitorisnya. Ibuku tergelinjang dengan hebat sambil mengerang lebih keras “aaakkkhhhh…. okhhhhh…. akkkkhhhh” erang nikmatnya terasa menggetarkan jiwaku.

Kulihat tangan ibuku meremas-remas kain sprei dengan kuatnya, sementara kakinya mulai menyepak-nyepak tempat tidur. Aksiku kini berubah kujilat sekali dari atas kebawah, lalu lidahku kujulurkan masuk dalam lobang pukinya, terasa cairan pelin ibu sedikit asin rasanya.

Aku kembali mengulum klitorisnya, sementara dua jariku kumasukkan kedalam lobang pukinya, baru juga dua kali jari-jariku menggelitik bagian dalam pukinya, pantat ibuku tiba-tiba terangkat keatas, sedangkan kedua tangannya menekan kepalaku ke arah selangkangannya, “aaakkkhhhh… okhhhh…” dengan erangan yang keras puncak kenikmatan sexual ibuku diraihnya.

Lalu saat tubuhnya melemas, aku segera menelungkupinya, dan kumasukkan batang penisku kedalam lubang pukinya, blesss penisku masuk yang langsung disambut dengan emutan dinding pukinya. Dari posisi klitorisnya yang menonjol, aku tahu aku harus lebih banyak melakukan gesekkan, agar klitorisnya juga lebih banyak tergesek rambut kemaluanku. Dan aku melakukannya, tubuh ibuku yang mula-mula masih lemas dan membiarkan aku memompanya, perlahan berubah, kini dia memberi respon dengan menggoyangkan pantatnya kekiri kekanan mengimbangi desakanku. “akhhh….okhh… kau pintar sekali Don… okhhh” ceracau ibuku ketika dia mulai mengimbangi pompaanku. Aku sendiri hanya dapat mendengus-dengus karena nikmatnya, ternyata dinding puki ibuku masih ketat meskipun dia sudah berusia 40 tahun.

“aaakkkhhh… okkhhh…” desahan ibuku berpadu dengan lenguhanku, “ughhh… ukhhh..”. Kupercepat pompaanku, lalu kurasakan ibuku mulai memutar-mutar pantatnya, aku segera merubah cara memompaku dengan memompa sambil memutar-mutar pantat ku berlawanan arah dengan putarannya. “Akhhhh…okkhhhh…” desah kami semakin keras.

Tidak berapa lama kemudian, tiba-tiba tubuh ibuku mengejang, sambil menaikkan pantatnya tinggi-tinggi “Doniiiii….okhh…akh…mam..a akhh… kelu…a rghh…”ceracau mama sambil menekan pantatku dengan kedua tangannya. Kubiarkan ibuku melihat orgasmenya, sampai akhirnya tubuhnya melemas sedangkan matanya terpejam.

Kucium bibirnya sekilas lalu aku segera memompanya lagi. Ibuku masih belum menunjukkan reaksi, tapi aku tetap memompanya perlahan untuk membangkitkan kembali gairahnya. Dan harapanku terlaksana beberapa menit kemudian, kurasakan ibuku mulai merespon pompaanku.

“Linda sayang, aku ingin sampeyan menungging” bisikku ditelinganya, ibuku yang sejak tadi memejamkan matanya, tiba-tiba membuka matanya, “huss…Doni mulai kurang ajar ya sama mama?” katanya sambil mencubit pelan pinggangku. “Kenapa Lin… bukankah kau tidak dapat menganggap aku anakmu, maka akupun tidak dapat menganggapmu ibuku, bahkan kini aku sudah menyetubuhimu maka sampeyan sekarang sudah jadi istriku Linda sayang” jawabku.

“Uh… sampeyan ada-ada saja, tapi… emmm Doni boleh memanggilku Linda saat kita bersetubuh, atau hanya ada kita berdua, tapi kalau ada orang lain Doni tetap harus memanggilku mama, mengerti?” katanya sambil tetap memutar-mutar pantatnya ketika dilihatnya aku mengangguk, ibuku tersenyum dan mencium bibirku, “ayolah kalau sampeyan ingin posisi doggystyle” katanya.

Aku menghentikan pompaanku lalu kami berganti posisi dan kembali kumasukkan batang kemaluanku kedalam lobang puki ibuku, dalam posisi ini kemutan dinding puki ibuku terasa lebih ketat, pantas Hery segera menyerah. Tapi tidak dengan aku, aku telah bertekad untuk memuaskan ibuku sampai dia bertekuk lutut pada diriku, karena aku berniat menghilangkan kebiasaannya bersetubuh dengan lelaki lain. Aku bertekad sejak sekarang hanya aku yang boleh menyetubuhinya.

Kulakukan segala cara untuk membuatnya cepat menggapai orgasmenya, sementara aku sendiri harus bertahan sekuat tenaga agar tidak muncrat lebih dahulu. Pengalamanku dengan Marta banyak membantuku, kuulurkan sebelah tanganku untuk meraih klitorisnya, dan mengulir-ulirnya. Ibuku hanya bertahan beberapa menit sampai akhirnya dia mencapai orgasmenya yang kedua.

“Akhhh… okhhh…”erangnya dengan keras sebelum tubuhnya mengejang kaku, kembali kubiarkan ibuku sampai tubuhnya lemas kembali, lalu segera kuminta padanya agar berbaring terlentang kembali. “Okhhh sampeyan hebat sekali Don” katanya dengan suara lemah, sambil membaringkan tubuhnya yang masih lemas.

Tanpa banyak bicara lagi aku segera memompanya, lagi dan lagi sampai akhirnya akupu tidak dapat bertahan lebih lama, “ughhh Linda…akhuu tidak tahan lagi” kataku kepada ibuku, “tahan sebentar sayang aku juga mau sampai” jawabnya sambil mengguncang-guncangkan pantatnya dengan dahsyat. Aku kini berdiam diri, berusaha keras agar dapat merasakan orgasme secara bersamaan.

Dan ketika tangan ibuku kembali mencengkram pantat dengan kerasnya akupun memucratkan air maniku yang kedua kalinya malam itu, bersamaan dengan orgasme kelima ibuku karena ulahku. “Linn akhhh…”, “Doniiii.. okhhh…” erang kami bersamaan saat puncak kenikmatan persetubuhan kami raih secara bersamaan.

Tubuh kami mengejang dengan kuatnya, lalu perlahan melemas dan aku ambruk diatas tubuh ibuku. Sejenak kami terdiam merasakan sisa-sisa kenikmatan. Setelah beberapa saat baru aku mengangkat kepalaku menatap wajah cantik ibuku. Seulas senyum tampak dibibir ibuku ketika mata kami bertemu pandang.

Kucium bibirnya lembut, lalu kupandangi kembali wajahnya yang cantik. “Mama tidak mengira kau begitu hebatnya, untuk membuat sampeyan mengeluarkan airmani kedua kalinya harus mama bayar dengan empat kali orgasme. Tahukah Doni hal semisal ini baru kali ini mama alami” katanya dengan suara lirih setengah mengambang.

“Sebenarnya mama hampir tidak percaya kalau Doni masih perjaka, karena apa yang tadi Doni lakukan sulit dikerjakan oleh orang yang begitu berpengalaman sekalipun, tapi mama terpaksa percaya, karena hanya perjaka yang langsung dapat tegang lagi sehabis memuncratkan air maninya” lanjutnya dengan suara tetap lirih, tapi kurasakan tangannya meraba batang kemaluanku yang memang menegang lagi.

Aku hanya tersenyum sambil kembali memasukkan batang penisku kedalam lubang pukinya, “ughh… kau memang luar biasa Doni sayangku” kata ibuku saat batang penisku masuk kembali kedalam pukinya. “Linda sayang, mulai kini Doni tidak mengijinkan sampeyan berkaitan sex dengan lelaki lain, hanya aku yang boleh menyetubuhimu, Doni minta sampeyan tinggalkan kebiasaan membawa lelaki kedalam kamar ini, baik dengan alasan bisnis maupun hanya sekedar memenuhi hasrat sexualmu, Doni akan setia memuaskanmu kapan pun juga, sehingga sampeyan tidak memerlukan siapapun lagi, berjanjilah padaku sekarang” kataku kepada ibuku.

“Darimana sampeyan tahu aku suka membawa lelaki kekamar ini?” tanya ibuku dengan kening berkerut. “Aku, Lena dan Marta tidak buta Lindaku sayang, karena itu kuminta sampeyan berjanji padaku untuk tidak bersetubuh dengan siapapun juga kecuali denganku” kataku sambil mulai memaju mundurkan pantatku, tapi mataku tetap memandang mata ibuku.

Mata ibuku sedikit meredup saat dirasakannya gesekan batang penisku di lubang pukinya, “aku berjanji sayang, asal Doni juga berjanji selalu siap menyetubuhiku” katanya sambil mulai menggoyangkan pantatnya lagi.

Malam itu aku menyetubuhinya sebanyak tiga kali, dan membuat ibuku mengalami orgasme tak kurang dari sebelas kali. Sejak saat itu Linda, ibuku tidak pernah lagi menerima tamu lelaki, dan aku harus membagi waktuku untuk meyetubuhi dua orang perempuan sekaligus, Linda, Ibuku dan Marta, adikku.

Aku dan ibuku sering mandi bersama dan aku menyabuni sekujur tubuhnya, termasuk putingnya yang super dan rambut kemaluannya yang lebat dan hitam, serta pukinya. Pada saat semisal itu selalu ibuku menghisap batang kemaluanku, tapi aku tidak pernah lagi mengijinkannya menghisap air maniku, tapi saat dia memberiku blowjob, setiap kali pula aku memasturbasinya, sampai dia orgasme. Dan setiap kali aku menuntaskan permainan dikamar mandi dengan persetubuhan yang mengasyikan. Berbagai mavcam gaya kami lakukan, mulai dari ibuku menyender dinding kamar mandi sambil mengangkat sebelah kakinya dan aku berdiri memompanya, atau dia berdiri sambil nungging sementara aku memompanya dari belakang, sampai dia duduk dipinggir bak mandi sementara aku memompanya dari depan.

Tapi saat-saat yang paling kusukai adalah ketika ibuku dengan tanpa baju bulat menyelinap ketempat tidurku. Kadang disiang hari jika kami ada yang terangsang, selalu saling menghubungi, lalu janjian bertemu disebuah motel dan kami bercinta habis-habisan di kamar motel.

Bertahun kami melakukannya, sampai akhirnya Lena menyandang gelar sarjana dan menikah dengan teman kuliahnya, mereka pindah ke kota lain yang jauh karena suaminya bekerja disana. Sedang Marta adikku setamat SMA dia menikah karena hamil oleh ulahku, suaminya adalah lelaki yang dijebaknya untuk menyetubuhinya, lalu dia harus bertanggung jawab untuk kehamilan yang disebabkan ulahku.

Ibuku sendiri senang Marta cepat menikah, karena dengan demikian hanya tinggal kami berdua yang ada dirumah, apalagi Marta juga dibawa suaminya pindah ke kota yang pastinya jauh, kami makin bebas bertindak semisal suami istri di apartemen kami, meskipun sebetulnya kami adalah ibu dan anak. Saat aku meraih gelar sarjanaku setahun sehabis Marta menikah, aku tidak bekerja tapi mengurus restauran milik ibuku atau istriku.

Aku lulus jadi sarjana pada usia 23 tahun, sedangkan ibuku berusia 42 tahun, tapi sampai saat itu ibuku masih belum menopause, justru saat kami berpikir ibuku tidak mungkin memiliki anak lagi, ibuku hamil oleh ulahku tanpa dapat mencari kambing hitam, dan hanya berselisih satu minggu kemudian aku menerima berita Lena juga tengah hamil.

Meskipun aku mencegahnya, tapi pada bulan kedelapan kehamilannya Lena datang sendiri tanpa didampingi suaminya yang mendapat tugas keluar negeri selama enam bulan. Lena pulang dengan maksud untuk melahirkan dikota kami. Betapa terkejutnya Lena saat dia melihat ibuku juga sedang hamil.

Diluar tahu ibuku, Lena sempat bertanya ibu hamil oleh siapa padaku, yang kujawab dengan mengangkat bahu. Lena tidak lagi bertanya, meskipun dari pembicaraan dia kemudian, aku tahu Lena sedang menduga-duga siapa diantara lelaki yang dulu sering mengunjungi ibuku, yang membuatnya hamil.

Usia kandungan ibuku dengan usia kandungan Lena hanya berselisih dua minggu. Meskipun selama dia tinggal Lena tidak melihat lelaki datang ke apartemen kami, tapi itu adalah suatu hal yang wajar karena hamil tuanya ibuku.

Lalu sebuah kecelakaan terjadi Lena jatuh ditangga darurat, yang menyebabkan dia dilarikan ke rumah perih, dua minggu Lena dirawat, Lenanya memang marilah, tapi bayinya meninggal. Lena menangis meraung-raung karena kehilangan bayinya, sulit bagi dia mempertanggungjawabkan kehilangan tersebut kepada suaminya yang begitu mendambakan anak.

Lena begitu khawatir diceraikan suaminya karena anaknya meninggal, karena itu dia sampai saat ini tidak memberi kabar apapun pada suaminya tentang meninggalnya anak yang dikandungnya. Lalu aku berunding dengan ibuku, akhirnya ibuku setuju untuk memberikan bayi yang dikandungnya kepada Lena. Aku bertugas untuk membuat kenal lahir anakku, yang kupalsukan atas nama Lena dan suaminya.

Bayi yang dilahirkan ibuku adalah bayi perempuan, aku beri dia nama Ninda, kependekkan dari namaku dan nama ibuku, meskipun yang kemudian memberi nama seolah-olah ibuku, tapi sebetulnya akulah yang memberi nama dan ibuku hanya menyetujuinya.

Bayi itu langsung diurus Lena sejak dilahirkan, hampir sebulan setengah sehabis melahirkan, aku dan ibuku mulai tidak tahan untuk berkaitan sex, apalagi kami sebelumnya terbiasa bebas dirumah, tapi kini terhalang oleh adanya Lena yang nyaris tidak pernah meninggalkan rumah. Bahkan malam hari pun aku dan ibuku sulit menyelinap justru karena Ninda sering menangis dimalam hari mencari air susu. Akhirnya kami menemukan akal, ibuku kembali mengurus restaurant nya, sedangkan aku tinggal dirumah. Jika aku pergi pamit pada Lena mau ngobjek, maka sebenarnya aku janjian dengan ibu untuk pergi ke motel.

Suatu hari sehabis ibuku pergi kerestaurant, aku duduk disofa ruang tengah, lalu Lena sambil membawa Ninda datang padaku, dia hanya mengenakan daster tipis, yang kancing baju atasnya terbuka. Lena duduk disampingku sambil mengeluh, “uh.. kenapa air susuku tidak mau nampak juga, bagaimana kalau suamiku bertanya kenapa aku tidak menyusui sendiri bayi ini” katanya sambil mengeluarkan buah dadanya dan menyodorkan putingnya pada mulut Ninda.

Ninda memang mencoba mngemutnya tapi sebentar kemudian melepaskannya karena tidak ada air susu yang mengalir, “bagaimana ini?” keluh Lena kebingungan. Aku sendiri terpaku melotot menatap buah dada Lena yang semok, tidak kalah oleh ibuku supernya, hanya aerolanya saja yang lebih kecil, dan putingnya lebih merah ketimbang memiliki ibuku..

Lena yang sadar dengan ulahku, kemudian memasukkan buah dadanya, “Doniii… Doni belum sembuh juga penyakitmu mengintip” katanya, jelas Lena terkenag ulahku waktu di kamp gereja itu. “Don boleh aku tanya kenapa kau belum menikah juga?” tanyanya dengan suara lembut ketika melihat aku tersipu malu.

“A.. aku tidak pernah memiliki keberanian untuk mendekati wanita” jawabku berbohong, sementara iblis telah memberikan rancangan bagiku untuk dapat meniduri Lena. “Kenapa bukankah kau lelaki normal?” tanyanya lagi. Aku pura-pura menunduk sedih “entahlah Len, kalau aku melihat wanita sering nafsuku bangkit, tapi saat aku mendekatinya, aku tidak mampu” jawabku, dengan suara diparau-paraukan.

“Kau pernah konsultasi pada dokter atau psyater?” tanyanya lagi, aku mengangguk “kata dokter aku normal-normal saja, sedangkan kata psyater ada sesuatu yang memblok alam bawah sadarku, sehingga aku tidak mampu, seharusnya aku berlatih berkaitan sex denganse orang wanita, tapi kemana aku harus mencari wanita semisal itu” cetusku pada Lena.

Lena terdiam beberapa lama, aku juga mendiamkannya sambil tetap mengekspresikan muka orang yang sedang putus asa. Setelah keheningan yang mencekam akhirnya Lena angkat bicara, “kau… kau …. mau berlatih denganku?” tanyanya dengan suara ragu. Kuangkat mukaku kupasang ekspresi tidak percaya dan harapan, “sun…sungguh sampeyan mau berlatih denganku?” tanyaku.

Dengan wajah memerah Lena mengangguk, “kau telah membantuku membujuk ibu untuk memberikan anaknya padaku, kini giliranku membantu sampeyan” katanya dengan suara lirih. Meskipun hatiku terlonjak kegirangan, tapi aku hanya menatapnya dengan pandangan penuh harapan “tapi bagaimana caranya?” tanyaku sambil menatapnya. Lena tersenyum dengan muka merah sambil berkata “ikut aku kekamar” pintanya sambil melangkah kekamarnya.

Sesampainya dikamar, ditidurkannya Ninda diboks tempat tidur bayi, “buka seluruh bajumu” pintanya padaku sambil membuka bajunya, lalu branya hingga kini tubuhnya hanya tinggal dibalut celana dalam, buag dada Lena ternyata lebih super dari memiliki Marta, meskipun lebih kecil dari Linda, ibuku. Hanya aerolanya saja yang sama supernya dengan milik ibuku.

Kuikuti perbuatannya dengan melepas semua bajuku kecuali celana dalamku. “Buka semuanya” pintanya padaku, kali ini kulepas celana dalamku, sehingga batang penisku tegak mengacung dengan gagah beraninya. “Woow… Don batang penismu luar biasa supernya… apa gak salah dengan omonganmu, kok aku lihat dia dapat berdiri dengan sempurna?” katanya sambil memperhatikan batang penisku.

Aku segera sadar dengan peran yang tengah kujalani, “iya dari dulu juga selalu tegak, tapi pas mau dimasukin layu lagi” kataku dengan nada sengaja kubuat antara kesal dan sedih. “Ehmm.. kini aku mengerti, mungkin ada yang salah dengan caramu, kemarilah berbaring disampingku” katanya sambil mendahului berbaring.

“Kau curang menyuruh aku membuka semua, tapi sampeyan sendiri masih memakai celana dalam” kataku sambil berbaring disampingnya. Lena sejenak kulihat ragu, “baiklah aku akan melepas celana dalamku, tapi kau harus berjanji untuk tidak memasukkan batang supermu kedalam pukiku, kita hanya akan saling menggesekkannya saja”katanya kemudian sambil melepas celana dalamnya sehabis melihat aku mengangguk.

“Boleh aku melihatnya?” tanyaku sambil bangkit duduk, Lena kembali ragu tapi kemudian dia menganggukkan kepalanya, “Ok kau dapat melihatnya, dan kau memang harus mempelajarinya” katanya sambil duduk dengan kaki terkangkang. Lalu Lena mulai menyebutkan seluruh bagian dari pukinya, sambil menunjuknya “dan ini lubang puki tempat dimana batang penis masuk kalau dua orang sedang bersetubuh, tapi kita tidak akan melakukan itu, kita hanya akan mengesekkannya saja agar kau dapat berlatih” katanya mengakhiri ceramahnya sambil kembali membaringkan tubuhnya lagi.

“Kini peluk dan cumbu aku” pintanya padaku, aku yang telah begitu terangsang karena melihat bagian dalam pukinya yang memerah, segera menelungkupinya, kupeluk tubuhnya sementara. Bibirku langsung menyerbu bibirnya, kukulum sejenak lalu kujulurkan lidahku kedalam mulutnya, “uphh..” desahnya ketika menerima serbuanku.

“kau rupanya sudah begitu berpengalaman dalam berciuman” katanya dengan napas sedikit terengah akibat serbuanku. “berciuman sich sudah kulakukan sejak kau belum menikah, sayang aku tidak dapat menuntaskannya” kataku sambil mencumbu leher dan telinganya. Lena tergeliat sambil berdesah “akhh…, perlahan sedikit” pintanya. Tapi aku yang sudah kadung bernafsu tidak menghiraukannya mulut dan lidahku berpindah pindah tempat operasi, mulai dari bibir, leher,buah dada, dan putingnya selalu menjadi incaranku, kukulum, kuemut dan kujilat secara berganti-ganti, sementara sebelah tanganku meremasi buah dadanya sedangkan batang penisku kugesek-gesekkan pada belahan pukinya.

Lena mulai bergelinjangan tubuhnya, erang yang tadinya ditahan-tahan, kini terlepas tanpa dapat disembunyikan lagi “akhh….okhhh…” erangnya berulang-ulang. Sementara pantatnya mulai bergoyang-goyang mengimbangi desakan batang penisku. Sengaja kupergencar lagi seranganku, dengan tujuan saat aku memasukkan batang penisku dia tidak mampu menolaknya.

“Aaakhh… aaakkkhhh..” erangnya saat kepala penisku menyundul-nyundul klitorisnya, sementara kakinya mulai menyepak-nyepak tempat tidur. Dari batang penisku kutahu puki Lena sudah begitu basah. “Ber….berhenti Don…” katanya terpatah-patah dengan suara lemah disela desahnya, memintaku untuk menghentikan aksiku. Aku sadar itu adalah sisa kesadarannya akan tujuan kami melakukan ini, tapi ini justru merupakan aba-aba bagiku untuk segera memasukkan batang penisku kedalam lubang pukinya.

Dengan ancang-ancang penuh aku mengincar lubang pukinya,”ughhh” lenguhku saat kepala batang penisku menembus lubang pukinya, blesss batang penisku amblas sebatas kepalanya, “Doniii… jangannnn…” pekikdengan mata terbelak lebar, sementara pantatnya berguncang dengan hebatnya untuk mengeluarkan batang penisku, sedangkan tangannya mencoba menolakkan tubuhku, tapi tenaganya begitu lemah.

Aku yang sudah menduga hal itu segera mempererat pelukanku dan himpitan pantatku keselangkangannya, bahkan pada saat-saat demikian kucoba untuk memasukkan batang penisku lebih dalam, meskipun agak susah karena rontaannya, tapi akhirnya aku mendapat kesempatan untuk menghentakkan batang penisku sekuatnya kedalam lubang pukinya.

“Ughh…” lenguhku saat menusukkan batang penisku sekuatnya, kurasakan betapa ketatnya himpitan dinding lubang pukinya, dan blesss seluruh batang penisku amblas “awww…” pekik Lena saat batang penisku amblas seluruhnya. Sejenak kami terdiam lalu pecahlah isak Lena “kau…kau …jahat Doni.. kau memasukkannya” katanya disela isaknya.

“Maafkan aku Len, aku sungguh tidak dapat menahan keinginanku untuk merasakan bagaimana rasanya memasukkan penisku kedalam lubang puki perempuan” kataku sambil membelai rambutnya. “Kini..kini kau sudah sembuh, cepat cabut penismu..” pinta Lena sambil memandangku.

Aku menggelengkan kepala “tidak aku sudah kadung memasukkannya, aku kini ingin merasakan bagaimana rasanya bersetubuh” kataku sambil mulai memaju mundurkan pantatku. Kulihat Lena mencoba untuk memberontak, tapi rontaannya lemah dan tidak bertenaga. Setelah nyata tidak berhasil Lena mencoba melawanku dengan cara halus, tubuhnya kaku semisal batang pisang tidak merespon pompaanku, sementara bibirnya digigitnya dengan keras.

Aku semakin tertantang untuk menaklukkan Lena, kukeluarkan semua kemampuan dan pengalamanku untuk membuatnya menyerah, akhirnya sehabis lima menit berusaha, kulihat sebuah kepasrahan nampak dari sorot matanya, mata itu pelan menyayu dan akhirnya terpejam, sementara bibirnya terbuka mengeluarkan desah nikmat yang sejak tadi ditahannya “oooookkkkkhhhhh……”, lalu pantatnya mulai bergoyang melayani pompaanku, mulanya pelan tapi makin lama makin cepat.

Kurang dari dua menit sejak dia merespon, tubuh Lena tiba-tiba mengejang”akhhh…. Donniiii….okhh….” erangnya sambil merangkul tubuhku erat-erat, aku tahu Lena sudah mencapai orgasme. Kubiarkan sejenak sehabis terasa tubuhnya melemas, segera ku pompa lagi. Luar biasa kurang dari semenit kemudian pantatnya mulai bergoyang lagi, “sssstttt….sehhh..” desisnya bagai orang yang kepedasan.

“Nikmat sayang?” kataku sambil mencium bibirnya sekilas, matanya yang sejak tadi terpejam kini terbuka, mata kami bertemu pandang dan perlahan matanya mengejap sekali sambil bibirnya menyunggingkan senyum, dan mata itu kembali tertutup dengan mukanya semakin memerah. Aku tahu Lena telah mengiyakan pertanyaanku. Dan aku melanjutkan pompaanku

Lena kembali mencapai orgasmenya tidak lama kemudian, kali ini dia menjerit kecil sambil menggigit bahuku saat tubuhnya mengejang. Aku yang ingin membuktikan penguasaanku terhadap Lena berbisik padanya sehabis tubuhnya kembali melemas. “Kini kau yang diatas menunggangi aku ya?” kataku sambil membalikan tubuh kami. Sejenak kemaluan kami terpisah. Lena berpindah posisi dan mengangkangiku sehabis sebelumnya dia meraih tissue dan membersihkan pukinya yang becek.

Tak lama kemudia Lena kini menunggangiku, dengan posisi ini Lenalah yang banyak bergerak dan memegang kendali persetubuhan. Hanya terkadang aku menaikkan pantatku menyongsong pantatnya yang turun sehingga batang kemaluanku amblas makin dalam dilubang pukinya, sedangkan kedua tanganku aktif meremas-remas payu daranya.

Lena benar-benar bagaikan orang yang kesetanan memacu tubuhku, keringatnya menganak sungai dan menetes ditubuhku, kadang badannya ditengkurapkan menindih badanku, kadang dia duduk tegak. Dan yang paling menyenangkan adalah saat dia menurunkan pantat nya sambil melakukan gerakan memutar, serasa batang penisku dipilin-pilin oleh dinding lubang pukinya, kurasakan rasa geli mulai timbul dibatang penisku, “Len aku sebentar lagi mau muncrat nich” kataku pada Lena, “akk…aku juga mau sebentar lagi, barengan aja” katanya disela dengus napasnya. Kucoba bertahan tapi saat Lena semaki tidak terkendali akhirnya aku muncrat juga “Ughhh… Lena…”kataku sambil menahan pantatnya agar rapat dengan, crett…crett… airmaniku menyembur.

Pada saat yang bersamaan kulihat Lena menengadahkan wajahnya memandang langit-langit kamar, tubuhnya mengejang “ouhggg…. Akkhhh…” erangnya dengan keras. Rupanya kami mencapai puncak kenikmatan bersetubuh secara bersamaan. Sejenak kami terdiam dalam posisi itu lalu tubuh Lena yang melemas ambruk menimpa tubuhku, kupeluk tubuhnya erat-erat sambil meresapi sisa-sisa kenikmatan yang baru kami raih.

Hampir seperempat jam kami berdiam diri dengan posisi semisal itu, batang penisku yang sudah mengerut akhirnya lepas dari lubang pukinya. “kau bohongkan dengan penyakitmu?” tuding Lena dengan suara lirih sambil masih tetap menindihku.

Aku tidak menjawab, sementara Lena melanjutkan kata-katanya “tapi aku tidak marah kepadamu, sampeyan baru saja memberi pengalaman terindah dan ternikmat selama hidupku, abang yang menjadi suamiku belum pernah mampu melakukannya semisal ini, paling skornya hanya 1-1, bahkan kadang aku tidak mendapat orgasme saat besetubuh dengannya, tapi kini skornya 3-1, suatu hal yang tidak pernah kuimpikan tapi kini jadi kenyataan” katanya masih dengan suara lirih sambil menggulingkan badannya hingga kini kami berbaring berdampingan.

Kubalikan badanku hingga kini aku menghadap padanya yang masih tetap berbaring, pelan kucium bibirnya, dan kami berpagutan erat. “Syukurlah kalau kau tidak marah, habis kau sich merangsangku, jadi saja aku melakukannya” kataku sambil mengelus-elus pinggangnya. “Len sampeyan masih mampu?” tanyaku.

Lena memandangku dengan pandangan bertanya, kupegang tangannya dan kubimbing ke penisku. “aww… kau sudah berdiri lagi?” tanyanya dengan takjub. “Se… sebentar beri aku waktu untuk memulihkan kondisi ku barang seperempat jam, lalu kita lakukan lagi” katanya dengan muka memerah, saat tanganku mulai mengelus-elus belahan pukinya.

Dan kami kembali bersetubuh lagi, puncak demi puncak kenikmatan kupersembahkan pada Lena, hari itu aku tiga kali memuncratkan airmaniku, sementara Lena tidak kurang dari sembilan kali meraih orgasmenya.

Sejak saat itu sampai Lena kembali kepada suaminya, aku selalu melayani dua orang perempuan dalam sehari. Kenikmatan birahi yang kami reguk seakan akan tidak ada puasnya. Menjelang kepulangannya Lena sempat bertanya padaklu dengan pandangan menyelidik “Doni, sebenarnya Ninda anak mama dengan siapa?, aku telah lama memikirkannya, lelaki semisal sampeyan berkumpul berdua dengan mama, rasanya tidak mungkin tidak terjadi sesuatu. Ninda bukankah itu kependekan namamu dan nama mama?, benar bukan Ninda adalah anak mama dari sampeyan?” tanyanya. Aku tidak menjawab pertanyaannya, aku hanya tersenyum sambil mencium sekilas bibirnya.

Dan aku hanya dapat nyengir saat pamit Lena merangkul aku dan ibuku, sehingga kami bertiga saling berangkulan erat, dan Linda berkata padaku dengan didengar ibuku, “jaga istrimu baik-baik yah… adikku yang nakal” katanya sambil mencium pipiku, lalu pada ibuku dia berkata “tolong jaga satu-satunya adik lelakiku ya iparku yang cantik” katanya sambil mencium pipi ibuku.

Lalu sambil berbalik dia berkata “terima kasih kalian telah memberikan anak kalian padaku, sehingga suamiku menjadi begitu bahagia, aku janji akan merawatnya semisal aku merawat anak kandungku sendiri” katanya sambil mengedipkan sebelah matanya pada kami, aku dan ibuku. Dan tanpa member kesempatan lagi Lena segera melangkah keluar.

“Da… dari… darimana Lena tahu hubungan kita?” Tanya ibuku dengan muka bingung meskipun matanya masih menatap pintu yang barusan digunakan Lena. “Sudah Lin, tak usah kita pikirkan, yang penting Lena tidak marah bahkan dari kata-katanya, tampaknya dia justru merestui hubungan kita, dan yang lebih penting lagi, kini kita tinggal berdua sehingga kita bebas semisal semula melakukan apa saja” kataku sambil membopong tubuh ibuku dan membawanya kekamar tidurnya yang sebenarnya merupakan kamar tidur kami.

“ughh… dasr sampeyan yang tidak ada puasnya” kata ibuku sambil menggigit pelan telingaku, “cepat kau setubuhi aku dan puaskan aku berkali-kali, anak kurang ajar yang doyan menyetubuhi ibunya sendiri” bisiknya lagi ditelingaku.

Waktu berjalan dengan cepat, Sepuluh tahun sejak ibuku melahirkan anakku, kudengar Lena bercerai dengan suaminya, dan setahun kemudian dia menikah lagi dengan seorang pria yang sepuluh tahun lebih muda dari usianya. Aku sendiri tidak pernah menikah secara resmi, buat apa, tokh ada ibuku yang sekaligus juga menjadi istriku.

Tapi empat tahun kemudian, atau lima belas tahun sejak melahirkan Ninda, ibuku meninggal dalam kecelakaan jalan raya, saat dia baru keluar dari sebuah mall. Sejak saat itu aku hidup sendiri dan menyepi.

Tapi itu tidak lama, lima bulan sehabis ibuku meninggal, aku mendapat telephone dari Lena, dia bertanya maukah aku merawat Ninda, karena suaminya yang sekarang tampaknya menaksir Ninda, sementara sikap Ninda sendiri terlalu gampangan. Karenanya Lena khawatir kalau suaminya menjalin hubungan gelap dengan Ninda.

“Dia membutuhkan figur yang kuat dan dapat mendidiknya, suatu hal yang tidak sanggup kuberikan” katanya padaku, aku segera menyetujuinya untuk menerima Ninda dirumahku, karena sebenarnyalah dia adalah putri ku satu-satunya. Tanpa sadar bahwa aku telah membuka babak baru dalam kehidupan incest sexualku.

=====

✪ Anda dapat ambil gambar bugil Rumah Dosa yang semok, atau nonton vidio porno Rumah Dosa 3GP paling baru di MEKI.PW
✪ Marilah nonton Kumpulan gambar semok Anda dapat vidio porno Terbaru atau badan semok Tante Suka jilat kemaluan. FOTO Bugil Gadis jilat dan kisah ngentot tante Memek Imut Rumah Dosa kisah dewasa pepek jilbab tentu Suka Bercumbu artis Binal pamer susu. puki Toket Ibu Sexy Onani Puas porno telanjang Perawan Bersama susu super. Hotel Perempuan sedap memiliki perih Ngecrot susu pastinya oke jilat tocil Kak Pembantu penggemar kemaluan. Ngocok gadis merangsang semok tegang sekaligus Bercumbu Mupeng Jilbab Buka Paha Vagina oke Latihan sungguh jembut sex Halus Ternyata selain super terdapat juga Model tante Menggairahkan atau Rumah Dosa susu oke.

☞ Maklumat dialamatkan kepada tante porno, jablay semok bersama lelaki kemaluan super, video porno Rumah Dosa tentu hanyalah untuk senang-senang semata. admin mohon maaf jikalau vidio atau gambar sampeyan yang berkaitan nampak, admin tidak terdapat maksud melecehkan.

☞ marilah melihat gambar bugil atau vidio porno Rumah Dosa di MEKI.PW, situs cabul kesayangan sampeyan. jangan lupa untuk melihat judul selanjutnya yang asyik dilihat semisal gambar tante susu super bugil, vidio gadis jilbab cantik jilat kemaluan super, gambar pepek Tante bugil selain ambil vidio porno jablay Suka ngentot semok paling baru dapat juga tulisan wanita jilbab disetubuhi kelonjotan dan foto bugil Rumah Dosa di situs kisah semok MEKI.PW tentu asyik.